Fungsi Manajemen Pendidikan

Fungsi Manajemen sebagai suatu karakteristik dari pendidikan muncul dari kebutuhan untuk memberikan arah pada perkembangan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam operasional sekolah. Kerumitan yang meningkat karena luas dan banyaknya program telah mendorong usaha untuk memerinci dan mempraktikkan prosedur administrasi dengan sistematis. Usaha ini telah menghasilkan uraian tentang praktik-praktik yang berhasil dan perangkat-perangkat asas yang konstruktif. 

Keith dan Girling (1991:xvii) dikutip oleh Rohiat (2008:14) penelitiannya menyebutkan. “kontribusi manajemen pendidikan terhadap keberhasilan dan kegagalan belajar siswa adalah sebesar 32%”. Dengan bertumpu pada landasan tersebut, pendidikan memulai usahanya dengan sungguh-sungguh untuk mengembangkan suatu teori dan ilmu administrasi pendidikan. Perkembangan ini melingkupi formulasi dan pemeriksaan proposisi teoritis, penelitian praktik yang sistematis, dan penerapan teori dari bidang ilmu sosial lain pada masalah administrasi pendidikan. Konsep-konsep baru yang membawa harapan tentang sifat dan fungsi administrasi yang diperlukan sekolah-sekolah adalah hasil dari pendekatan-pendekatan ini. 

Seorang kepala sekolah yang memanajemen sekolah tanpa pengetahuan manajemen pendidikan tidak akan bekerja secara efektif dan efisien, jauh dari mutu, dan keberhasilannya tidak akan menyakinkan. Pengetahuan dan atau teori tentang manajemen pendidikan sangat dibutuhkan dan harus dipahami oleh seorang kepala sekolah karena tanpa teori manajemen seorang kepala sekolah akan melakukan pekerjaannya dengan terkaan dan pendapatnya saja. Hal tersebut tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan justru akan mengalami jalan buntu. Teori manajemen pendidikan akan sangat membantu para kepala sekolah dalam menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya karena “teori adalah pernyataan tentang prinsip-prinsip umum yang tampak meramalkan atau menjelaskan kejadian-kejadian dengan teliti dan lebih baik dari terkaan sehingga kita dapat mengatakan bahwa prinsip-prinsip itu benar”. (Coladarci and Getzels, 1998) dikutip oleh Rohiat (2008:15) Seorang kepala sekolah yang tidak mempelajari teori manajemen dalam mengelola sekolahnya tidak akan dapat mencapai tujuan secara efektif karena apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan harus berpijak pada perilaku yang sistematis dan berhubungan dengan konsep, asumsi, dan generalisasi teori manajemen. 

Dewasa ini kekuatan yang mempengaruhi sekolah-sekolah sedang mempercepat tingkat perluasan tanggung jawabnya dan membantu operasinya lebih rumit. Unit-unit operasi yang lebih besar serta hubungan yang lebih dekat dan lebih langsung dengan lembaga-lembaga sosial lain, maupun dengan unit-unit lain dari sistem sekolah membuat pengetahuan dan keterampilan manajemen menjadi suatu keharusan. Pada waktu yang sama, pengetahuan baru dan kuatnya permintaan akan keutamaan mengarahkan perhatian terhadap perluasan pelayanan administrative yang membuatnya lebih kompleks. Sebagai akibatnya, konsep-konsep sebelumnya tentang praktik manajemen tidak lagi memenuhi. Kondisi baru dalam wawasan baru tentang fungsi manajemen meminta formulasi kembali arti dan maksud administrasi yang diperlukan bagi sekolah-sekolah. 

Sesuai dengan apa yang dikemukakan sebelumnya, fungsi kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin pendidikan dalam meningkatkan mutu dihadapkan kepada berbagai tugas dan tanggung jawab. Secara ilmu atau pengetahuan, kepala sekolah harus memahami apakah manajemen tersebut berbasis sekolah atau tidak, apa dan bagaimana kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), bagaimana membuat rencana anggaran sekolah sehubungan dengan bantuan operasional sekolah (BOS). Belajar merupakan suatu keharusan bagi kepala sekolah dalam memanajemenkan sekolahnya. Tanpa belajar, ia merupakan sosok birokrasi yang melaksanakan aturan-aturan yang merupakan regulasi statis saja. Filsafat manajemen adalah kerjasama saling menguntungkan. Bekerja secara efektif dengan metode kerja yang terbaik untuk mencapai hasil yang optimal perlu dipahami dan diresapi. Manajer sekolah dengan kepemimpinannya menjadi penanggung jawab dari hasil yang dicapai dalam aktivitas proses manajemen. Dengan demikian, kepala sekolah yang memimpin dengan inovatif, kreatif, cakap dan berani mengambil keputusan akan melahirkan kegiatan-kegiatan organisasi (guru, siswa, anggota sekolah lainnya, bahkan orang tua dan komite) yang semakin dinamis. Sebaliknya, kepala sekolah yang tidak kreatif, cakap, inovatif, dan tidak berani mengambil keputusan akan mengakibatkan sekolah menjadi organisasi yang hanya menjalankan rutinitas. 

Filsafat manajemen lainnya adalah kumpulan pengetahuan dan kepercayaan yang memberikan dasar-dasar pemikiran untuk pengambilan keputusan dalam rangka memecahkan berbagai masalah di sekolah. Manajer sekolah perlu memiliki pengetahuan yang memadai tentang manajemen pendidikan sebagai bekal kerja. Dengan kata lain, ia memiliki filsafat manajemen yang akan bermanfaat untuk : 
  1. Pegangan dalam melaksanakan manajemen sekolah.  
  2. Melahirkan kepercayaan diri bagi kepala sekolah dalam proses manajemen guna mencapai tujuan sekolah.  
  3. Memudahkan kepala sekolah dalam proses berpikir guna memecahkan permasalahan manajemen sekolah secara sistem.  
  4. Memotivasi kepala sekolah untuk mendapatkan dukungan dari staf sekolah dan menarik partisipasinya.  
  5. Selaku berpikir efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.  
  6. Mengetahui batasan-batasan wewenang dalam memanajemen dan memimpin sekolah. 
Filsafat manajemen berkembang berdasarkan budaya kelompok manusia yang menggunakannya dengan pengertian lain. Perkembangan filsafat manajemen bisa berbeda bagi sekelompok manusia, tergantung pada pribadinya atau tingkat kualitas dan pemahamannya. Perlu disadari, Indonesia memiliki masyarakat yang revolusioner, maju, dan berkembang.

Konsep Manajemen

Adalah dua kata yang bisa memiliki arti yang sama atau berbeda. Akan tetapi, tulisan ini cenderung menggunakan istilah manajemen karena pada dasarnya manajemen identik dengan administrasi. Sutisna (1989 : 25) dikutip oleh Rohiat (2008:13) menulis, dalam pemakaiannya secara umum, administrasi diartikan sama dengan manajemen, dan administrator dengan manajer. Di bidang pendidikan, pemerintah, rumah sakit, dan kemiliteran, orang umumnya memakai istilah administrasi, sedangkan bidang industri dan perusahaan istilah manajemen dan manajer. 

Pada perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan lebih cenderung menggunakan istilah manajemen pada berbagai bidang. Administrasi pada kehidupan masyarakat sehari-hari biasanya diartikan secara komplit, yaitu sesuatu yang berkenaan dengan ketatausahaan.Handayaningrat (1982 : 2) dikutip oleh Rohiat (2008;13) mengemukakan “Administrasi dalam arti sempit, yaitu dari kata Administratie (bahasa Belanda) yang meliputi kegiatan : catat-mencatat, surat-menyurat, pembukuan ringan, ketik-mengetik, agenda, dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan (clerical work). Jadi, tatausaha adalah bagian kecil dari administrasi. Administrasi dapat diartikan sebagai upaya memanfaatkan sumberdaya yang (3 M : man, money, dan material) dimiliki secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Ungkapan yang sederhana ini tidak dapat menjelaskan administrasi secara utuh karena untuk memahami administrasi membutuhkan pengetahuan yang menyeluruh”. 

Sutisna (1989 : 15) dikutip oleh Rohiat (2008:13) mengemukakan, pertanyaan tentang administrasi tidak mudah untuk dijawab, walaupun berjilid-jilid buku telah ditulis orang untuk menjelaskannya. Ada orang yang meragukan suatu teori yang komprehensif tentang administrasi pendidikan akan muncul. Dewasa ini ada beberapa taksonomi yang membantu menjelaskan beberapa aspek dari bidang yang sedang muncul ini. Orang berbicara tentang “administrasi sebagai tugas pekerjaan”, “administrasi sebagai proses”, “administrasi sebagai pengambilan keputusan”, “administrasi sebagai hubungan manusia”, dan taksonomi lain yang serupa seperti orang-orang dalam dongeng “Orang Buta dan Gajah” yang meraba-raba badan seekor gajah besar tapi tidak melihat seluruh gajahnya. Dongeng ini sering dipakai untuk menggambarkan situasi yang bertalian dengan teori umum tentang administrasi pendidikan pada masa ini. 

Manajemen berasal dari kata to mange yang berarti mengelola. Pengelolaan dilakukan melalui proses dan dikelola berdasarkan urutan dan fungsi-fungsi manajemen itu sendiri. Manajemen adalah melakukan pengelolaan sumberdaya yang dimiliki oleh sekolah/ organisasi yang diantaranya adalah manusia, uang, metode, material, mesin, dan pemasaran yang dilakukan dengan sistematis dalam suatu proses.Pengelolaan tersebut dilakukan untuk mendayagunakan sumberdaya yang dimiliki secara terintegrasi dan terkoordinasi untuk mencapai tujuan sekolah/ organisasi. Pengelolaan dilakukan oleh kepala sekolah dengan kewenangannya sebagai manager sekolah melalui komando-komando atau keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dengan mengarahkan sumberdaya untuk mencapai tujuan. Manajer mengaturnya melalui proses dari urutan fungsi-fungsi manajemen (perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian). Pernyataan bahwa manajemen merupakan alat untuk mengelola sumberdaya yang dimiliki secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan harus benar-benar dipahami oleh para kepala sekolah. Sepak terjang manajer dalam mengelola sumberdaya di dalam sekolah akan sangat tergantung pada kompetensi (skill) kepala sekolah itu sendiri.

Klasifikasi Keterampilan

Keterampilan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam keterampilan dan kelas-kelasnya. Pengkelasan ini dimaksudkan untuk membantu para peneliti dan pendidik dalam upaya menerapkan keterampilan dalam keperluan penelitian atau pengajarannya. Dengan mengetahui perbedaan-perbedaan dalam keterampilan tersebut, maka akan mudahlah bagi pendidik untuk membuat pentahapan pernbelajarannya.

Banyak pendekatan yang telah dikembangkan untuk mengklasifikasi¬kan keterampilan gerak. Setiap sistem klasifikasi didasarkan pada hakikat umum dari keterampilan gerak dikaitkan dengan aspek-aspek spesifik dari keterampilan tersebut. Setidaknya ada tiga sistem yang dapat dikemukakan disini, yaitu dilihat dari atau dikaitkan dengan :
• Stabilitas lingkungan,
• Jelas tidaknya titik awal serta akhir dari gerakan, dan
• Ketepatan gerakan yang dimaksud

Keterampilan Terbuka dan Tertutup
Keterampilan bisa dibedakan antara keterampilan terbuka dan tertutup. Hal ini berkaitan dengan kondisi lingkungan (environment) pada saat keterampilan yang bersangkutan dilakukan. Menurut Schmidt (1991) keterampilan terbuka (open skill) adalah keterampilan yang ketika dilakukan lingkungan yang berkaitan dengannya bervariasi dan tidak dapat diduga. Ini hampir sama seperti yang dikemukakan oleh Magil (1985) yang menyebutkan bahwa keterampilan terbuka adalah keterampilan-keterampilan yang melibatkan lingkungan yang selalu berubah dan tidak bisa diperkirakan. Sebagai contoh dari keterampilan ini misalnya pukulan-pukulan pada stroke tenis atau pukulan pada softball yang kedatangan bolanya dari lawan sering tidak bisa diduga sebelumnya, baik dalam hal kecepatannya maupun dalam hal arahnya. Dalam hal ini Gentile (1972) mengatakan bahwa, “…..pelaku harus bertindak atas rangsangan yang datang”. Dengan demikian, pelaku tidak bisa menunggu atau berdiri di satu titik saja atau memukul bola dengan jenis pukulan tertentu saja, tetapi lebih ditentukan oleh arah dan kecepatan dari bola yang datang. Untuk bisa berhasil dengan baik, maka pemain harus bergerak dan bertindak sesuai dengan lokasi ruang dari bola serta tuntutan kecepatannya. Marilah kita batasi saja keterampilan terbuka ini sebagai keterampilan yang pelaksanaannya lebih ditentukan oleh lingkungan yang tidak tetap dan tidak bisa diduga. Keterampilan Tertutup (closed skill) menunjukkan keterampilan yang sebaliknya. Schmidt dan Magil sama-sama mendefinisikan keterampilan tertutup ini sebagai keterampilan yang dilakukan dalam lingkungan yang relatif stabil dan dapat diduga. Contohnya seperti keterampilan-keterampil¬an yang menjadi ciri olahraga bowling, golf, panahan, senam atau renang. Kesemua keterampilan dalam olahraga di atas merupakan keterampilan yang ditentukan oleh pemain atau pelaku, tanpa harus dibatasi oleh lingkungan sekitar. Cobalah lihat pada olahraga panahan misalnya. Si pemanah hanya melepaskan anak panahnya dari busur pada saat yang ia rasa tepat. Atau lihat juga olahraga golf. Pegolf hanya memukul bola kapan saja ia mau. Oleh karena itu kedua keterampilan ini sering juga dipertukarkan dengan mudah dengan istilah self-paced skill (closed skil ) dan external-paced skill (open skill). Dalam hal ini Gentile mengatakan bahwa kedua keterampilan di atas bukanlah merupakan suatu dikotomi, melainkan lebih merupakan sebuah kontinum, yaitu adanya keterhubungan yang semakin berubah dari ujung satu ke ujung yang lain, namun tidak terpisahkan. Untuk membantu memahami adanya kontinum tersebut. Dibawah ini akan diperlihatkan gambar berikut (dikutip dari Magil, 1985)

Keterampilan Diskrit, Kontinuous, dan Serial
Cara kedua dalam membedakan jenis keterampilan yakni dengan menghubungkannya dengan berlangsungnya Perilaku dari keterampilan tersebut, antara keterampilan yang berlangsung singkat diperbandingkan dengan keterampilan yang berlangsung terus menerus dalam waktu lama. Atau seperti dikemukakan di atas, keterampilan ini dibedakan dengan melihat jelas tidaknya antara titik awal dan titik akhir dari gerakan yang dimaksud. Keterampilan diskrit (discrete skill) diartikan oleh Schmidt sebagai keterampilan yang dapat ditentukan dengan mudah diawal dan akhir dari gerakannya, yang lebih sering berlangsung dalam waktu singkat, seperti melempar bola, menendang bola, gerakan-gerakan dalam senam artistik, atau menembak. Keterampilan-keterampilan semacam ini tentu saja dianggap penting dalam olahraga dan permainan karena menentukan pencapaian tujuan dalam olahraga yang bersangkutan. Di ujung lain dari ukuran keterampilan tersebut yakni keterampilan berkelanjutan (continuous skill), yang pelaksanaannya tidak memperlihatkan secara jelas mana awal dan mana akhir dari suatu keterampilan. Magil menyebutkan bahwa suatu keterampilan mempunyai awal dan akhir gerakan yang selalu berubah-ubah, maka keterampilan ini dikategorikan sebagai keterampilan berkelanjutan. " Dalam hal ini bisa jadi pelakulah yang menentukan titik awal dan titik akhir dari keterampilan termaksud, dan bukan keterampilan itu sendiri. Contoh dari keterampilan ini dapat kita temui dalam renang atau lari, yang titik awal dan akhirnya ditentukan oleh si pelaku. Contoh lain dalam bidang lain bisa dikemukakan seperti me¬ngendarai mobil, di mana si pengendaralah yang menentukan berlangsungnya aksi mengendarai tersebut. Lalu bagaimana dengan keterampilan serial? Keterampilan Serial (serial skill) menurut Schmidt adalah keterampilan yang sering dianggap sebagai suatu kelompok dari keterampilan-keterampilan diskrit, yang digabung untuk membuat keterampilan baru atau keterampilan yang lebih kompleks. Namur demikian, kata serial disini juga menunjukkan bahwa urutan dari keterampilan-keterampilan yang digabung tadi merupakan hal yang penting dalam berhasilnya melakukan keterampilan ini. Jadi tidak sembarangan asal menggabungkan. Memindahkan gigi (gear) dalam mengendarai mobil misalnya, adalah keterampilan serial yang dibangun oleh tiga macam keterampilan diskrit yang digabungkan: mengangkat dari menekan gas, menginjak kopling, serta memindahkan gigi. Contoh lain bisa juga dilihat pada rangkaian senam artistik.

Keterampilan Gerak Kasar dan Keterampilan Gerak Halus

Pengklasifikasian yang terakhir dikenal dengan keterampilan gerak kasar dan keterampilan gerak halus, dimana ketepan menjadi penentu dari keberhasilannya. Magil membatasi Keterampilan Gerak Kasar (gross motor skill) sebagai keterampilan yang bercirikin gerak yang melibatkan kelompok otot-otot besar sebagai dasar utama gerakannya. Dikatakan demikian karena seluruh tubuh biasanya berada dalam gerakan yang besar, menyeluruh, penuh, dan nyata (Singer, 1980 dan Malina and Bouchard, 1991). Keterampilan ini dengan demikian tidak terlalu menekankan ketepatan (precision) dalam pelaksanaannya, serta tentunya merupakan kebalikan dari keterampilan gerak halus. Berjalan, berlari, melompat, melempar, serta kebanyakan keterampilan dalam olahraga dimasukkan sebagai keterampilan gerak kasar. Namur demikian, berhasilnya penampilan keterampilan ini tetap memerlukan koordinasi gerak tinggi, sebagai tidak ada satu pun keterampilan olahraga yang tidak disertai oleh keterampilan yang halus. Semua gerakan atau tindakan, terdiri dari sebuah kontinum antara antara yang halus dan yang kasar. Sedangkan Keterampilan Gerak Halus (fine motor skill) adalah keterampilan-keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk mengontrol otot-otot kecil/halus untuk mencapai pelaksanaan keterampil yang sukses. Biasanya menurut Magil (1985), keterampilan ini melibatkan koordinasi neuromuscular yang memerlukan ketepatan derajat tinggi untuk berhasilnya keterampilan ini. Keterampilan jenis ini sering juga disebut sebagai keterampilan yang memerlukan koordinasi mata-tangan (hand-eye coordination). Menulis, menggambar, dan bermain piano, adalah contoh-contoh dari keterampilan tersebut. Malina (1991) menegaskan hal ini dengan mengemukakan contoh pelaksanaan lambungan bola softball (pitching) yang membutuhkan baik ketepatan dan kecepatan. Ketepatan memerlukan derajat ketelitian dan pengontrolan jari dan tangan, sedangkan kecepatan memerlukan lebih banyak gerak kasar dari lengan dan tubuh untuk memberikan daya lempar yang mencukupi.


Keterampilan Gerak dan Keterampilan Kognitif

Schmidt memasukkan terhadap klasifikasi keterampilan ini keterampilan-keterampilan yang dibedakan antara keterampilan gerak dan keterampilan kognitif. Menurutnva, dalam Keterampilan gerak, penentu utama dari keberhasilannya adalah kualitas dari gerakan itu sendiri tanpa memperhatikan persepsi serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keterampilan yang dipilih. Contohnya dalam olahraga lompat tinggi pelompat tidak perlu memperhitungkan kapan dan bagaimana ia harus bertindak untuk melompati mistar, tetapi yang harus ia lakukan adalah melompat setinggi dan seefektif mungkin. Dalam keterampilan kognitif hakikat dari gerakannya tidaklah penting, tetapi keputusan-keputusan tentang gerakan apa dan yang mana yang harus dibuat merupakan hal terpenting. Contohnya, dalam olahraga catur. Bukanlah hal yang penting apakah buah catur digerakkan dengan cepat atau pelan-pelan, tetapi yang penting adalah pemain mengetahui buah catur yang mana yang harus digerakkan serta ke mana digerakannya. Pendeknya, keterampilan kognitif terutama berkaitan dengan pemilihan apa yang harus dilakukan, sedangkan keterampilan gerak utama berkaitan dengan bagaimana melakukannya. Ukuaran ini, seperti juga yang lain, hanyalah merupakan kontinum, sebab tidak ada keterampilan yang benar-benar keterampilan kognitif atau benar-benar keterampilan gerak. Setiap keterampilan memerlukan kombinasi dari keduanya. Kebanyakan keterampilan yang nyata biasanya berada diantara kedua ujung dari pengkutuban kedua keterampilan ini dan merupakan kombinasi kompleks dari pembuatan keputusan dan pelaksanaan gerakan.

Keterampilan

Istilah keterampilan sulit untuk didefinisikan dengan suatu kepastian yang tidak dapat dibantah. Keterampilan dapat menunjuk pada aksi khusus yang ditampilkan atau pada sifat dimana keterampilan itu dilaksanakan. Banyak kegiatan dianggap sebagai suatu keterampilan, atau terdiri dari beberapa keterampilan dan derajat penguasaan yang dicapai oleh seseorang menggambarkan tingkat keterampilannya. Hal ini bisa terjadi karena kebiasaan yang sudah diterima umum untuk menyatakan bahwa satu atau beberapa pola gerak atau perilaku yang diperhalus bisa disebut keterampi¬an, misalnya menulis, memainkan gitar atau piano, menyetel mesin, berjalan, berlari, melompat, dsb. Jika ini yang digunakan, maka kata keterampilan yang dimaksud adalah sebagai kata benda. Di pihak lain, keterampilan juga bisa digunakan  sebagai kata sifat, walaupun kalau hal ini digunakan, kata tersebut sudah berubah strukturnya hanya menjadi terampil. Kata ini digunakan untuk menunjukkan suatu tingkat keberhasilan dalam melakukan suatu tugas. 

Jika memperhatikan kondisi dari kedua hal yang digambarkan di atas, maka istilah 'keterampilan' tersebut harus didefinisikan dengan dua cara. Pertama, dengan menganggapnya sebagai kata benda, yang menunjuk pada suatu kegiatan tertentu yang berhubungan dengan seperangkat gerak yang harus dipenuhi syarat-syaratnya agar bisa disebut suatu keterampilan. Kedua dengan menganggapnya sebagai kata sifat. Yang sudah dilakukan orang selama ini dalam kaitannya dengan istilah keterampilan baru terbatas pada penjabaran definisi dalam konteks yang terakhir.

Schmidt (1991) mencoba menggambarkan definisi keterampilan tersebut dengan meminjam definisi yang diciptakan oleh F.R. Guthrie (dibahas di Bab 2), yang mengatakan bahwa: "keterampilan merupakan kemampuan untuk membuat hasil akhir dengan kepastian yang maksimum dan pengeluaran energi dan waktu yang minimum”. Sedangkan Singer (1980) menyatakan bahwa “keterampilan adalah derajat keberhasilan yang konsisten dalam mencapai suatu tujuan dengan efisien dan efektif”.
Kedua definisi diatas, walaupun dinyatakan secara berbeda namun sama-sama memiliki unsur pokok yang menjadi ciri dari batasan keterampilan. Unsur-unsur itu adalah :

  1. Di dalam keterampilan terdapat beberapa tujuan yang berhubungan dengan lingkungan yang diinginkan, misalnya menahan posisi handstand dalam senam atau menyelesaikan umpan ke depan dalam sepakbola. Dalam pengertian ini, keterampilan dibedakan dari gerakan yang tidak mesti memiliki tujuan yang berhubungan dengan lingkungan tertentu seperti menggoyang-goyangkan jari tangan tanpa tujuan (Schmidt, 1991).
  2. Di dalam keterampilan pun terkandung keharusan bahwa pelaksanaan tugas atau pemenuhan tujuan akhir tersebut dilaksanakan dengan kepastian yang maksimum, terlepas dari unsur kebetulan atau untung¬-untungan. Jika seseorang harus melakukan suatu keterampilan secara berulang-ulang, maka hasil dari setiap ulangan itu relatif harus tetap, meskipun di bawah kondisi yang bervariasi maupun yang tidak terduga (Singer, 1980)
  3. Keterampilan menunjuk pada upaya yang ekonomis, dimana energi yang dikeluarkan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu harus seminimal mungkin, tetapi dengan hasil yang maksimal. Dalam hal ini Schmidt mencatat bahwa dalam beberapa tugas gerak tertentu, efisiensi tenaga ini bukanlah tujuan utama, sebab tugas gerak seperti dalam Tolak Peluru atau Sprint misalnya mengharuskan pelakunya mengerah¬kan tenaganya dalam takaran yang maksimal. Kaitan pengeluaran energi yang minimum berlaku dalam hal pengorganisasian gerak atau aksi yang tidak hanya dalam arti energi tubuh saja, melainkan juga menunjuk pada pengeluaran energi secara psikologis atau mental. Bergerak secara keras tetapi kaku menunjukkan pengeluaran energi tubuh yang tidak efisien. Demikian juga jika selama pelaksanaan tugas itu si pelaku merasa tegang, tertekan, atau masih memikirkan secara mendalam tentang gerakan yang dimaksud.
  4. Keterampilan mengandung arti pelaksanaan yang cepat, dalam arti penyelesaian tugas gerak itu dalam waktu yang minimum. Semakin cepat pelaksanaan suatu gerak, tanpa mengorbankan hasil akhir (kua¬litas) yang diharapkan, maka akan membuat terakuinya keterampilan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini perlu dimengerti bahwa mempercepat gerakan suatu tugas akan menimbulkan pengeluaran energi yang semakin besar, di samping membuat gerakan semakin sulit untuk dikontrol ketepatannya. Namun demikian, lewat latihan dan pengalaman semua unsur yang terlibat dalam menghasilkan gerakan yang terampil perli dikombinasikan secara serasi.

Sebagai perbandingan dari keempat unsur diatas, H. W. Johnson (dalam Singer 1980) mengidentifikasi adanya empat aspek atau variabel yang mencirikan keterampilan. Keempat aspek itu adalah kecepatan, akurasi, bentuk, dan kesesuaian. Artinya pertama keterampilan harus ditampilkan dalam batasan waktu tertentu, yang menunjukkan bahwa semakin cepat semakin baik, kedua keterampilan harus menunjukkan akurasi yang tinggi sesuai dengan yang ditargetkan. Ketiga keterampilan pun harus dilaksanakan dengan kebutuhan energi yang minimal (form atau bentuk menunjuk pada usaha yang ekonomis) dan terakhir, keterampilan pun harus adaptif, yaitu tetap cakap meskipun dibawah kondisi yang berbeda-beda.
Sebagai kesimpulan, seperti dinyatakan oleh Schmidt, keterampilan pada dasarnya merupakan upaya untuk mencapai tujuan-tujuan yang berhubungan dengan lingkungan dengan cara :
•    Memaksimalkan kepastian prestasi.
•    Meminimalkan pengeluaran energi tubuh dan energi mental, dan
•    Meminimalkan waktu yang digunakan

Pembelajaran Motorik

Motorik Manusia
Studi tentang motorik (gerak) manusia tidak terlepas dengan ilmu gerak, kinesiologi, performance manusia, pendidikan jasmani, dan body movement. Perilaku gerak (motor behavior) merupakan sub disiplin yang menekankan pada investigasi mengenai prinsip-prinsip perilaku manusia. Perilaku gerak dibagi ke dalam tiga bagian yaitu : teori gerak, belajar gerak, dan perkembangan gerak. 
  1. Teori Gerak Teori gerak (motor control) adalah studi mengenai faktor- faktor fungsi saraf yang mempengaruhi gerak manusia. Siatem saraf merupakan bagian penting dalam memproduksi gerak manusia, sebab sel-sel saraf merangsang otot untuk memproduksi gerak manusia. 
  2. Belajar Gerak Belajar gerak (motor learning) merupakan studi tentang keterampilan untuk memperoleh dan menyempurnakan gerakan. Belajar gerak sangat dipengaruhi oleh berbagai bentuk latihan, pengalaman, dan situasi belajar manusia. Untuk dapat melakukannya diperlukan adanya kontrol perhatian (atensi), dan pemusatan perhatian atau konsentrasi  
  3. Perkembangan Gerak Perkembangan gerak (motor development) merupakan sebuah peru¬bahan dalam perilaku gerak yang mampu merefleksikan adanya interaksi antara kematangan organiams seseorang dengan lingkungannya. Permkembangan gerak akan mengubah kompetensi gerak manusia yang diawali sejak masa bayi hingga dewasa yang melibatkan berbagai aspek perilaku seseorang. Perkembangan gerak sangat bersifat spesifik, setiap individu mem¬punyai gerak yang berbeda dengan individu lain, karena dipengaruhi oleh kemampuan kognitif, kemampuan afektif, faktor lingkungan dan faktor biologis dari individu yang bersangkutan.

Contoh Formulir Pendaftaran SMP Ke SMA Kurikulum 2013

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal, maupun pendidikan non formal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu

Dan tidak terasa tahun ajaran 2015/2016 akan berakhir sebentar lagi. Semua Sekolah disibukkan dengan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). mulai dari panitia, sarana penunjang, dan lain-lain demi kelancaran kegiatan tersebut.

Bagi yang membutuhkan contoh formulir pendaftaran SMP Ke SMA Kurikulum 2013 versi Ms. Excel silahkan download filenya disini

Metode-Metode Pengajaran Dalam Praktek

Lebih sering di dalam kelas kita dihadapkan pada pertanyaan bagaimana dalam prakteknya kita membedakan antara metode mengajar gesalt (keseluruhan) dengan metode mengajar bagian dan metode-metode progresif. Untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang langkah-langkah dari metode tersebut, maka dibawah ini akan disertakan pembahasan tentang pelaksanaan metode diatas. 

Metode Global

Metode global atau keseluruhan atau whole method adalah suatu cara mengajar yang beranjak dari yang umum ke yang khusus. Dalam mengajarkan keterampilan gerak atau permainan, maka bentuk yang utuh keseluruhan diajarkan terlebih dahulu kemudian dipecah-pecahkan menjadi bagian-bagian
Dalam pelaksanaannya metode global ini mengikuti urutan sebagai berikut :

  • Preview: yaitu suatu tahap yang dimaksudkan untuk memperkenalkan keterampilan yang akan dipelajari. Tahap priview ini tentu bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik melalui uraian variabel, demontrasi langsung, penayangan gambar atau foto, pemutaran video film, atau hanya lembaran-lembaran tugas; yang intinya adalah untuk memberikan gambaran utuh (keseluruhan) tentang materi yang akan dipelajari.
  • Percobaan: dalam tahap ini semua murid mencoba menguasai keterampilan yang dimaksud dengan cara melakukannya sendiri secara utuh seperti yang terlihat dalam gambar. Apabila keterampilan yang dipelajari tersebut adalah lompat jauh gaya lenting, maka semua murid mencoba melakukan lompat jauh dari awalan hingga mendarat
  • Review: setelah percobaan yang sekilas tadi dianggap cukup, maka dalam tahap ini guru mengundang murid untuk saling mengungkapkan masalah-masalah yang ditemukan selama percobaan. Atau, dalam kondisi kelas kita yang lebih bersifat satu arah, maka tahap ini sering digunakan guru untuk memberitahukan pada murid tentang kesalahan-kesalahan yang masih mereka buat. Tahap ini diakhiri hingga semua murid mempunyai gambaran yang jelas tentang kelemahan dan kelebihan mereka.
  • Retrial: dalam pengenalan mereka tentang apa yang harus dilakukan pada percobaan mereka, maka dalam tahap ini murid mulai mencoba kembali, dengan tujuan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang masih dibuat. Percobaan kembali ini tetap masih dalam konteks keseluruhan yang kemudian bisa dilakukan semacam review kembali. Demikian seterusnya hingga keterampilan yang bersangkutan dirasa ssudah dicapai dengan baik.
  • Pemantapan: Setelah beberapa kali terlibat dalam proses review dan retrial, maka murid akan semakin memantapkan kemampuannya dengan melatihnya berulang-ulang. Pada tahap ini hendaknya guru sudah semakin spesifik dalam memberikan umpan balik informasi yang berguna buat memantapkan keterampilan anak.
      Metode Bagian
Metode bagian atau “part method” adalah suatu cara mengajar yang beranjak dari suatu bagian keseluruhan, atau dari yang khusus ke yang umum. Pada prakteknya metode ini dianggap metode yang tradisional, karena merupakan metode yang paling tua, yang merupakan pengkristalan gagasan-gagasan mengajar dari teori behaviorisme.
Seperti dikatakan diatas, metode mengajar dengan cara ini dimulai dengan mengajarkan unit-unit terkecil dari suatu keterampilan, yang pada akhirnya digabungkan menjadi suatu keterampilan yang utuh. Dengan demikian tahapan pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
  • Priview: sama seperti dalam tahap pengajaran metode keseluruhan, tahap ini adalah untuk memberikan pengertian yang utuh tentang materi atau keterampilan yang akan dipelajari. Lebih khusus lagi, priview dalam metode ini adalah untuk memperlihatkan yang dimaksud terdiri dari bagain-bagian yang digabungkan. Pelaksanaan tahap ini perlu untuk keperluan tahap berikutnya (namun dalam kelas-kelas kita tahap ini malah lebih sering dilewatkan)
  • Analisis: tahap ini dimaksudkan untuk mengenali bagian-bagian yang membangun suatu keterampilan, bagaimana sequencenya (urutan), dan apa fungsi dari masing-masing elemen tadi terhadap keutuhan keterampilan. Keperluan analisis ini sebenarnya akan bermanfaat juga untuk melatih anak dalam melihat bagaimana suatu keterampilan terbangun.
  • Melatih unit-unit: setelah berhasil menganalisis suatu keterampilan yang hendak dipelajari, maka tahap berikutnya adalah melatih unit-unit tadi sesuai urutannya. Misalnya dalam lompat jauh tadi, maka pertama kali dilatih adalah awalannya. Setelah awalan dikuasai, maka kemampuan berikutnya yang dilatih adalah tolakan. Demikain terus, hingga semua unit tadi dikuasai.   
  • Sintesis: setelah semua unit yang membangun suatu keterampilan dapat dikuasai sebagai unit-unit kecil, maka disinilah semua unit tadi dicoba digabungkan sehingga mewujud sebagai keterampilan utuh. Untuk menggabungkan semua unit yang terpisah-pisah tadi tentunya tidak mudah dan tidak sebentar, karena tidak semua anak mempunyai kemampuan dasar yang sama. Oleh karena itu pelaksanaan tahap ini memerlukan waktu yang cukup, dengan pemberian umpan balik yang cukup pula

Nama-Nama Lain Dari Hari Kiamat

Hari akhirat memiliki beberapa nama lain (julukan) yang diberikan oleh Allah sendiri melalui firman-Nya di dalam Al Qur'an, di antaranya adalah :
1.      Al-Ghâsyiyah (Arab: الغاشية) - Peristiwa Yang Dahsyat
2.      Al-Qâri‘ah (Arab: القارعة) - Yang Menggemparkan
3.      Ar-Râjifah (Arab: الرجفة) - Yang Menggetarkan
4.      As-Sâ'ah (Arab: السَّاعَة) – Kehancuran
5.      Ash-Shakhah - Bencana yang memilukan
6.      At-Thaamah (Arab: اظمة) – Bencana
7.      Al-Wâqi‘ah (Arab: الْوَاقِعَةُ) - Peristiwa Yang Pasti Terjadi
8.      Al-Zalzalah (Arab: الزلزلة) – Kegoncangan
9.      Yawm ad-Dîn (Arab: يَوْمِ الدِّينِ) - Hari Penghakiman
10.  Yawm al-Âkhir (Arab: يَوْمِ الآخِرُ) - Hari Akhir
11.  Yawm al-Alîm Arab: يو م أليم) - Hari Yang Menyedihkan
12.  Yawm al-‘Azhim (Arab: يَوْمٌ عَظِيْمٌ ) - Hari Yang Besar
13.  Yawm al-Âzifah (Arab: يَوْمُ الآزِفَةِ) - Hari Yang Dekat
14.  Yawm al-Ba'ats (Arab: يوم البث) - Hari Kebangkitan
15.  Yawm al-Fashl (Arab: يَوْمُ الْفَصْلِ) - Hari Keputusan
16.  Yawm al-Fath (Arab: يَوْمُ الْفَتْحِ) - Hari Kemenangan
17.  Yawm al-Haqq (Arab: يَوْمُ الْحَقِّ) - Hari Kebenaran
18.  Yawm al-Hasrah (Arab: يَوْمٌ الْحَسْرَةِ) - Hari Penyesalan
19.  Yawm al-Hasyr (Arab: يوماالحشر) - Hari Perhimpunan
20.  Yawm al-Hisãb (Arab: يومالْحِسَابِ) - Hari Perhitungan
21.  Yawm al-Jam‘i' (Arab: يَوْمُ الْجَمْعِ) - Hari Pengumpulan
22.  Yawm al-Jaza' (Arab: يوم الجزاء) - Hari Pembalasan/ Hukuman
23.  Yawm al-Khulûd (Arab: يَوْمُ الْخُلُوْدِ) - Hari Kekekalan
24.  Yawm al-Khurûj (Arab: يَوْمُ الْخُرُوْجِ ) - Hari Keluar dari Kubur
25.  Yawm al-Mahsyar (Arab: يومالمحشر) - Hari Berkumpul di Mahsyar
26.  Yawm al-Mau‘ûd (Arab: يَوْمُ الْمَوْعُوْدُ ) - Hari Yang Dijanjikan
27.  Yawm al-Mizan (Arab: يَوْمَالميزان) - Hari Penimbangan
28.  Yawm al-Qiyāmah (Arab: يَوْمُ الْقِيَامَةِ) - Hari Kebangkitan
29.  Yawm al-Wa’iid (Arab: يَوْمُ الْوَعِيدِ ) - Hari Ancaman
30.  Yawm an-Nusyur (Arab: يوم انوسر) - Hari Kembali
31.  Yawm ‘Aqîm (Arab: يَوْمٌ عَقِيْمٌ) - Hari Siksaan
32.  Yawm at-Taghâbun (Arab: يَوْمُ التَّغَابُنِ) - Hari Pengungkapan Kesalahan
33.  Yawm at-Tanad (Arab: يَوْمَ التَّنَادِ) - Hari Panggil Memanggil
34.  Yawm ath-Thalâq (Arab: يَوْمُ الطَّلاَقِ) - Hari Pertemuan
35.  Yawm azh-Zhullah (Arab: يَوْمُ الظُّلَّةِ) - Hari Naungan
36.  Yawm Kabîr' (Arab: يَوْمٌ كَبِيْرٌ) - Hari Yang Besar
37.  Yawm Ma‘lûm (Arab: يَوْمٌ مَعْلُوْمٌ) - Hari Yang Dikenal
Yawm Muhîth (Arab: يَوْمٌ مُحِيْطٌ) - Hari Yang Membinasakan
 
Support : Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Husni Tamrin Blog...... - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Powered by Blogger