Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan

Download Kitab At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur_an karya Imam Nawawi

Kitab suci Alquran memiliki keistimewaan-keistimewaan yang dapat dibedakan dari kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya, di antaranya ialah: 

1. Al quran memuat ringkasan dari ajaran-ajaran ketuhanan yang pernah dimuat kitab-kitab suci sebelumnya seperti Taurat, Zabur, Injil dan lain-lain. Juga ajaran-ajaran dari Tuhan yang berupa wasiat. Alquran juga mengokohkan perihal kebenaran yang pernah terkandung dalam kitab-kitab suci terdahulu yang berhubungan dengan peribadatan kepada Allah Yang Maha Esa, beriman kepada para rasul, membenarkan adanya balasan pada hari akhir, keharusan menegakkan hak dan keadilan, berakhlak luhur serta berbudi mulia dan lain-lain.

Allah Taala berfirman, “Kami menurunkan kitab Alquran kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya, untuk membenarkan dan menjaga kitab yang terdahulu sebelumnya. Maka dari itu, putuskanlah hukum di antara sesama mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah. Jangan engkau ikuti nafsu mereka yang membelokkan engkau dari kebenaran yang sudah datang padamu. Untuk masing-masing dari kamu semua Kami tetapkan aturan dan jalan.” (Q.S. Al-Maidah:48) 

Jelas bahwa Allah swt. sudah menurunkan kitab suci Alquran kepada Nabi Muhammad saw. dengan disertai kebenaran mengenai apa saja yang terkandung di dalamnya, juga membenarkan isi kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah Taala sebelum Alquran sendiri yakni kitab-kitab Allah yang diberikan kepada para nabi sebelum Rasulullah saw. Bahkan sebagai pemeriksa, peneliti, penyelidik dari semuanya. Oleh sebab itu Alquran dengan terus terang dan tanpa ragu-ragu menetapkan mana yang benar, tetapi juga menjelaskan mana yang merupakan pengubahan, pergantian, penyimpangan dan pertukaran dari yang murni dan asli. 

Selanjutnya dalam ayat di atas disebutkan pula bahwa Allah Taala memerintahkan kepada nabi supaya dalam memutuskan segala persoalan yang timbul di antara seluruh umat manusia ini dengan menggunakan hukum dari Alquran, baik orang-orang yang beragama Islam atau pun golongan ahlul kitab (kaum Nasrani dan Yahudi) dan jangan sampai mengikuti hawa nafsu mereka sendiri saja. Dijelaskan pula bahwa setiap umat oleh Allah swt. diberikan syariat dan jalan dalam hukum-hukum amaliah yang sesuai dengan persiapan serta kemampuan mereka. 

Adapun yang berhubungan dengan persoalan akidah, ibadah, adab, sopan santun serta halal dan haram, juga yang ada hubungannya dengan sesuatu yang tidak akan berbeda karena perubahan masa dan tempat, maka semuanya dijadikan seragam dan hanya satu macam, sebagaimana yang tertera dalam agama-agama lain yang bersumber dari wahyu Allah swt. Allah Taala berfirman, “Allah telah menetapkan agama untukmu semua yang telah diwasiatkan oleh-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, (yang semua serupa saja) yakni hendaklah kamu semua menegakkan agama yang benar dan janganlah kamu sekalian berpecah-belah.” (Q.S. Asy-Syura:13)

Seterusnya lalu dibuang beberapa hukum yang berhubungan dengan amaliah yang dahulu dan diganti dengan syariat Islam yang merupakan syariat terakhir yang kekal serta sesuai untuk diterapkan dalam segala waktu dan tempat. Oleh sebab itu, maka akidah pun menjadi satu macam, sedangkan syariat berbeda disesuaikan dengan kondisi zaman masing masing umat.

Untuk lebih lengkapnya download Bukunya disini

Kemuliaan Shalat


حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الصَّنْعَانِيُّ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَصْبَحْتُ يَوْمًا قَرِيبًا مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنْ النَّارِ قَالَ لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ قَالَ ثُمَّ تَلَا { تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنْ الْمَضَاجِعِ حَتَّى بَلَغَ يَعْمَلُونَ } ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ قُلْتُ بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
2616. Ibnu Abu Umar menceritakan kepada kami, Abdullah bin Mu'adz Ash-Shan'ani menceritakan kepada kami, dari Ma'mar, dari Ashim bin Abu An-Najud, dari Abu Wail, dari Mu'adz bin Jabal. Ia berkata: Aku bersama Nabi SAW dalam sebuah perjalanan. Pada suatu hari aku berada di dekat beliau, sedangkan kami sedang berjalan. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku amal perbuatan yang dapat membuatku masuk surga dan menjauhkanku dari api neraka." Beliau bersabda, "Kamu telah menanyakan persoalan yang besar kepadaku. Hal itu mudah bagi orang yang diberikan kemudahan oleh Allah, yaitu kamu hendaknya menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain, mendirikan shalat, menunaikan zakat. berpuasa di bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji di baitullah. " Beliau melanjutkan, "Maukah kuberitahukan kepadamupintu-piniu kebaikan.' Puasa adalahperisai, shadaqah itu dapat menghapuskan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api, dan shalat yang diiakukan oleh seseorang di tengah malam. " Dia berkata, "Rasulullah kemudian membaca firman Allah, 'Lambung-lambung mereka jauh dan tempat tidur mereka,' hingga pada lafaz 'apa yang mereka kerjakan '." Beliau lalu bersabda, "Maukah kamu aku beritahukan tentang pangkal, tiang, dan sekaligus puncak segala urusan?" Aku menjawab. "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Pangkal segala umsan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad." Beliau kembali bersabda, "Maukah kamu aku beritahukan halyang dapat menjaga itu semua?" Aku menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau lalu meraih lisan beliau dan bersabda, "Tahanlah lisanmu ini." Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kami akan diberikan siksa akan apa yang kami ucapkan?" Beliau menjawab, "Celaka kamu wahai Mu 'adz, tidaklah manusia dibenamkan wajah atau hidungmereka ke dalam api neraka melainkan karena hasil perbuatan lisan mereka." Shahih: Ibnu Majah (3973).

Hubungan Ibadah Fardhu dengan Keimanan


حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ عَبَّادٍ الْمُهَلَّبِيُّ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَدِمَ وَفْدُ عَبْدِ الْقَيْسِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا إِنَّا هَذَا الْحَيَّ مِنْ رَبِيعَةَ وَلَسْنَا نَصِلُ إِلَيْكَ إِلَّا فِي أَشْهُرِ الْحَرَامِ فَمُرْنَا بِشَيْءٍ نَأْخُذُهُ عَنْكَ وَنَدْعُو إِلَيْهِ مَنْ وَرَاءَنَا فَقَالَ آمُرُكُمْ بِأَرْبَعٍ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ ثُمَّ فَسَّرَهَا لَهُمْ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَأَنْ تُؤَدُّوا خُمْسَ مَا غَنِمْتُمْ
2611. Qutaibah menceritakan kepada kami, Abbad bin Abbad Al Muhallabi mencentakan kepada kami, dari Abu Hamzah, dari Ibnu Abbas, ia berkata. "Utusan dari Abdul Qais datang kepada Rasulullah SAW, mereka berkata, "Kami —suku ini— berasal dari Rabi'ah. Kami tidak pernah bertemu denganmu selain di bulan-bulan haram. Maka, perintahkanlah kepada kami dengan sesuatu yang dapat kami ambil darimu dan dapat kami serukan kepada orang-orang di belakang kami (generasi setelah kami)." Beliau bersabda, "Aku memerintahkan kepada kalian untuk melakukan empat perkara, yaitu beriman kepada Allah —beliau lalu menafsirkan makna iman kepada Allah kepada mereka— dengan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyerahkan (menginfakkan) seperlima harta rampasan perang kalian." Shahih: Iman Abu Daud (58-59); Muslim.
Qutaibah menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah ... dengan hadits yang sama. Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan shahih." Abu Hamzah Adh-Dhuba'i namanya adalah Nashr bin Imran. Syu'bah meriwayatkannya dari Abu Hamzah, kemudian ditambahkan "Apakah kalian mengetahui apakah iman itu? Yaitu bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan Allah "... lalu ia menyebutkan matan hadits selanjutnya. Aku pernah mendengar Qutaibah bm Sa'id berkata, Aku tidak pernah menemukan orang seperti keempat ahli fikih ini. yaitu Malik bin Anas, Al-Laits bin Sa'ad. Abbad bm Abbad Al Muhallabi, dan Abdul Wahab Ats-Tsaqafi. Qutaibah berkata, "Kami ridha karena pulang dari Abbad setiap hari dengan membawa dua hadits." Abbad bin Abbad adalah putra Al Muhallab bin Abu Shafrah.

Sifat-sifat Malaikat Maut

Disebutkan dalam hadits. Tatkala Allah SWT menciptakan malaikat maut, maka beberapa mahluk ditutupi dengan satu juta hijab (tabir) sedangkan besarnya hijab itu melebihi besarnya beberapa langit dan beberapa bumi, yang seandainya jika seluruh air lautan dan danau diatas kepalanya, maka tidak setetespun air jatuh ke bumi. Sesungguhnya timur bumi dan barat bumi itu berada diantara dua tangannya (dihadapannya) seperti meja dihadapannya yang telah diletakkan diatas meja itu segala sesuatu yang diletakkan dihadapan seseorang agar memakannya, lalu orang itu memakan dari apa yang ada diatas meja itu.

Ketika Allah SWT menciptakan malaikat maut, maka Allah memerintahkan pada malaikat maut untuk memegang hati (mencabut nyawa) kemudian malaikat maut berkata Ya Tuhanku, apa mati itu?, maka Allah memerintahkan hijab supaya membuka diri sehingga malaikat dapat melihat mati. Kemudian Allah SWT berfirman kepada malaikat “Mendekatlah kamu semua dan lihatlah malaikat maut ini”. Maka seluruh malaikat itu semua mendekat. Dan Allah berfirman kepada malaikat maut, “Terbanglah diatas mereka dan bentangkan seluruh sayapmu, dan bukalah matamu seluruhnya”. Ketika malaikat maut terbang, dan para malaikat sama melihatnya, maka mereka sama tersungkur dan pingsan yang lamanya 1.000 tahun.


Ketika para malaikat itu telah sembuh dari pingsannya mereka sama berkata “Ya Tuhan kami, mengapa engkau menciptakan yang lebih besar dari mahluk ini?. Maka Allah menjawab “Aku yang menciptakannya, dan aku lebih besar darinya dan seluruh mahluk akan merasakan darinya”. Kemudian Allah berfirman “Ya Izrail, cabutlah nyawa! Telah Aku serahkan kepadamu untuk mencabut nyawa”. Maka malaikat Izrail berkata “Ya Tuhanku, dengan kekuatan apa aku mencabut nyawa, karena sesungguhnya nyawa itu lebih besar daripada Aku?”. Kemudian Allah memberikan kekuatan pada malaikat Izrail lalu ia mencabut nyawa (mati), maka berdiamlah mati ditangannya, maka maut berkata “Ya Tuhanku, izinkanlah kepadaku sehingga aku memanggil seluruh langit sekali. Kemudian Allah mengizinkan kepadanya. Maut berkata memanggil dengan suara yang keras, “aku adalah maut, yang memisahkan tiap-tiap kekasih, aku adalah maut, yang memisahkan suami istri, aku adalah maut, yang memisahkan antara saudara laki-laki dan perempuan, aku adalah maut, yang meramaikan kubur, aku adalah maut, yang mengejarmu dan menemukanmu meskipun kamu berada di gedung besi yang terkunci rapat, dan tidak ada seseorang mahluk pun terkecuali akan merasakan aku”.


Sesungguhnya orang-orang kafir dan munafiq adalah termasuk orang-orang yang celaka, tatkala maut mendatangi mereka, maka turunlah disisi kirinya orang kafir itu malaikat adzab yang hitam warnanya, yang melotot matanya, serta malaikat itu memakai pakaian siksa dan adzab. Kemudian malaikat adzab menjauh dari orang kafir itu, sehingga malaikat maut dating. Dan ketika malaikat maut berdiri dihadapannya dengan bentuk yang menakutkan. Kemudian jiwa orang itu berkata “Siapa engkau, dan apa yang engkau kehendaki”, maka malaikat maut menjawab “Aku adalah malaikat maut yang akan mengeluarkanmu dari dunia, dan menjadikan anakmu yatim dan istrimu janda, hartamu menjadi harta warisan diantara ahli warismu, mereka tidak kamu senangi dikala kamu masih hidup, sesungguhnya kamu tidak mendahulukan kebaikan untuk dirimu, dan kamu tidak mendahulukan kabaikan akhiratmu, maka pada hari ini aku dating kepadamu untuk mencabut nyawamu”, ketika orang itu mendengar perkataan malaikat maut, maka ia berpaling kearah dinding, maka tampaklah olehnya bahwa malaikat maut telah berdiri dihadapannya, lalu ia memalingkan wajahnya kearah lain maka tampaklah olehnya malaikat maut berdiri dihadapannya, kemudian malaikat maut berkata, “Apakah kamu tidak mengetahui aku? Aku adalah malaikat maut yang mencabut nyawa kedua orang tuamu dan engkau melihat keduanya dan keberadaanmu tidak dapat memberi manfaat kepada kedua orang tuamu, pada hari ini aku akan mencabut nyawamu sehingga dapat dilihat oleh anak-anakmu, kerabatmu, temanmu supaya mereka memberi nasehat kepadamu.


Kemudian malaikat maut itu berkata kepada orang tersebut, “Bagaimana engkau melihat dunia?”, maka orang itu menjawab “Aku melihat dunia sebagai tipu daya yang mengingkari janji. Kemudian Allah SWT menciptakan dunia dengan bentuk suatu mahluk, maka dunia itu berkata, “Wahai orang-orang yang bermaksiat, apakah kamu tidak malu bahwa kamu berbuat dosa di dunia, dan kamu tidak menjaga dirimu dari durhaka, sesungguhnya kamu mencariku tetapi aku tidak mencarimu, dan kamu tidak memisahkan antara yang halal dan haram, kamu menyangka bahwa dirimu tidak akan terpisah dari dunia, maka sesungguhnya aku (dunia) akan bebas dari kamu dan dai amal perbuatanmu.

Akibat Mengabaikan Shalat

Pada zaman dahulu terdapat suatu kisah yang menceritakan ada seorang kakek yang shalih telah menguburkan adik perempuannya di suatu kuburan. sewaktu menguruknya tanpa disadarinya tiba-tiba dompetnya terjatuh le dalam liang kuburan tersebut. Hingga pulang dan sampai di rumah barulah ia ingat dompetnya terjatuh dan tertinggal dalam liang kuburan adiknya itu.

Maka ia segera kembali ke kuburan adiknya untuk mengambil dompetnya itu dan ia menggalinya, setelah digali, maka ia dikejutkan dengan nyala api yang menyala-nyala dari kuburan adiknya tersebut. Maka segeralah ditutupnya kembali kuburan adiknya itu. Selanjutnya ia segera kembali pulang ke rumahnya sambil menangis tersedu-sedu, ketika sampai dirumah ia langsung menemui ibunya dan bertanya “Wahai ibu beritahukanlah kepadaku tentang amal perbuatan adikku pada waktu masa hidupnya?”. “Mengapa kamu menanyakan tentang hal itu, wahai anakku?” Tanya ibunya. Kemudian ia menjawab “Wahai ibu, saya telah melihat nyala api keluar dari kuburan adikku”. Mendengar apa yang dikatakan oleh anak laki-lakinya itu menangislah ibunya dengan sejadi-jadinya seraya berkata “Adikmu dulu sering meremehkan shalat dan sering mengakhirkan waktunya”

Nama-Nama Lain Dari Hari Kiamat

Hari akhirat memiliki beberapa nama lain (julukan) yang diberikan oleh Allah sendiri melalui firman-Nya di dalam Al Qur'an, di antaranya adalah :
1.      Al-Ghâsyiyah (Arab: الغاشية) - Peristiwa Yang Dahsyat
2.      Al-Qâri‘ah (Arab: القارعة) - Yang Menggemparkan
3.      Ar-Râjifah (Arab: الرجفة) - Yang Menggetarkan
4.      As-Sâ'ah (Arab: السَّاعَة) – Kehancuran
5.      Ash-Shakhah - Bencana yang memilukan
6.      At-Thaamah (Arab: اظمة) – Bencana
7.      Al-Wâqi‘ah (Arab: الْوَاقِعَةُ) - Peristiwa Yang Pasti Terjadi
8.      Al-Zalzalah (Arab: الزلزلة) – Kegoncangan
9.      Yawm ad-Dîn (Arab: يَوْمِ الدِّينِ) - Hari Penghakiman
10.  Yawm al-Âkhir (Arab: يَوْمِ الآخِرُ) - Hari Akhir
11.  Yawm al-Alîm Arab: يو م أليم) - Hari Yang Menyedihkan
12.  Yawm al-‘Azhim (Arab: يَوْمٌ عَظِيْمٌ ) - Hari Yang Besar
13.  Yawm al-Âzifah (Arab: يَوْمُ الآزِفَةِ) - Hari Yang Dekat
14.  Yawm al-Ba'ats (Arab: يوم البث) - Hari Kebangkitan
15.  Yawm al-Fashl (Arab: يَوْمُ الْفَصْلِ) - Hari Keputusan
16.  Yawm al-Fath (Arab: يَوْمُ الْفَتْحِ) - Hari Kemenangan
17.  Yawm al-Haqq (Arab: يَوْمُ الْحَقِّ) - Hari Kebenaran
18.  Yawm al-Hasrah (Arab: يَوْمٌ الْحَسْرَةِ) - Hari Penyesalan
19.  Yawm al-Hasyr (Arab: يوماالحشر) - Hari Perhimpunan
20.  Yawm al-Hisãb (Arab: يومالْحِسَابِ) - Hari Perhitungan
21.  Yawm al-Jam‘i' (Arab: يَوْمُ الْجَمْعِ) - Hari Pengumpulan
22.  Yawm al-Jaza' (Arab: يوم الجزاء) - Hari Pembalasan/ Hukuman
23.  Yawm al-Khulûd (Arab: يَوْمُ الْخُلُوْدِ) - Hari Kekekalan
24.  Yawm al-Khurûj (Arab: يَوْمُ الْخُرُوْجِ ) - Hari Keluar dari Kubur
25.  Yawm al-Mahsyar (Arab: يومالمحشر) - Hari Berkumpul di Mahsyar
26.  Yawm al-Mau‘ûd (Arab: يَوْمُ الْمَوْعُوْدُ ) - Hari Yang Dijanjikan
27.  Yawm al-Mizan (Arab: يَوْمَالميزان) - Hari Penimbangan
28.  Yawm al-Qiyāmah (Arab: يَوْمُ الْقِيَامَةِ) - Hari Kebangkitan
29.  Yawm al-Wa’iid (Arab: يَوْمُ الْوَعِيدِ ) - Hari Ancaman
30.  Yawm an-Nusyur (Arab: يوم انوسر) - Hari Kembali
31.  Yawm ‘Aqîm (Arab: يَوْمٌ عَقِيْمٌ) - Hari Siksaan
32.  Yawm at-Taghâbun (Arab: يَوْمُ التَّغَابُنِ) - Hari Pengungkapan Kesalahan
33.  Yawm at-Tanad (Arab: يَوْمَ التَّنَادِ) - Hari Panggil Memanggil
34.  Yawm ath-Thalâq (Arab: يَوْمُ الطَّلاَقِ) - Hari Pertemuan
35.  Yawm azh-Zhullah (Arab: يَوْمُ الظُّلَّةِ) - Hari Naungan
36.  Yawm Kabîr' (Arab: يَوْمٌ كَبِيْرٌ) - Hari Yang Besar
37.  Yawm Ma‘lûm (Arab: يَوْمٌ مَعْلُوْمٌ) - Hari Yang Dikenal
Yawm Muhîth (Arab: يَوْمٌ مُحِيْطٌ) - Hari Yang Membinasakan

Shalat Untuk Orang Tua

Shalat untuk orang tua (shalat birrul walidayn) adalah shalat untuk berbakti kepada kedua orang tua. Shalat ini dilakukan oleh anak untuk kedua orang tuanya, untuk mewujudkan kebarbaktian kepada mereka, baik mereka masih hidup atau telah berpulang ke hadirat Allah SWT 

Rasulullah SAW pernah ditanyai: “Siapakah yang paling besar haknya terhadap seseorang?” Beliau menjawab: “Kedua orang tuanya.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya saat mereka masih hidup, tetapi setelah mereka meninggal ia tidak memohonkan ampunan untuk mereka, maka ia dicatat sebagai anak yang durhaka kepada keduanya. Dan sesungguhnya anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya saat mereka masih hidup, tapi sesudah mereka meninggal ia memperbanyak istighfar untuk mereka, maka ia dicatat sebagai anak yang berbakti.” (Al-Mustadrak 2:112).

Shalat ini diajarkan oleh Rasulullah saw dan keluarganya. Shalat ini dilakukan dua rakaat dengan niat untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Caranya:

1. Rakaat pertama : sesudah surat Fatihah membaca surat Ibrahim/14: 41 (10 kali) yaitu: 
    Rabbanaghfirlî wa li-wâlidayya wa lil-mu’minîna yawma yaqûmul hisâb
    Ya Tuhan kami, ampuni aku dan kedua orang tuaku serta orang-orang mukmin pada hari
    terjadinya hisab (hari kiamat).

2. Rakaat kedua : sesudah surat Fatihah membaca surat Nuh/71: 28 (10 kali) yaitu:
    Rabbighfirlî wa li-wâlidayya wa liman dakhala baytî mu’minan wa lil-mu’minîna wal
     mu’minât.
    Ya Tuhanku, ampuni aku dan kedua orang tuaku, dan orang yang masuk ke rumahku dengan
    beriman, serta seluruh mukminin dan mukminat.

Setelah salam membaca doa berikut 10 kali Rabirhamhumâ kamâ rabbayanî shaghîrâ. Ya Tuhanku, kasihani mereka berdua sebagaimana mereka mendidikku di waktu aku kecil. (Mafâtihul Jinân, bab 2, halaman 215)

Untuk Lebih Lengkapnya Lihat : Disini

Antara Hidup dan Mati

Yang namanya mahluk Allah di dunia ini akan mengalami kehidupan dan kematian, baik itu kehidupan masih di dalam kandungan atau kehidupan di dunia fana ini. Sebelum menuju ke kehidupan yang kekal abadi yaitu kehidupan di akhirat, semua mahluk akan mengalami tiga tahap kehidupan yaitu : yang pertama, kehidupan pada waktu masih dalam kandungan, kedua, kehidupan di alam dunia dan ketiga, kehidupan di alam kubur. Yang ketiganya adalah merupakan kehidupan yang sifatnya hanya sementara.

Setiap mahluk yang hidup di dunia akan mengalami yang nemanya kematian, dan keduanya (kehidupan dan kematian) merupakan kehendak Allah SWT. Karena Dialah Yang Maha Kuasa, yeng menghidupkan dan mematikan semua mahluk yang ada di dunia ini.

Hal yang demikian itu diterangkan dalam firman-Nya, surat Al Mulk ayat 1-2 yang artinya : “Maha Suci Allah yang ditangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu semua, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya”.

Dan dipertegas lagi dengan surat Al Mukminum ayat 80, yang mempunyai arti : “Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang mengatur pertukaran malam dan siang. Apakah kamu tidak memahaminya?”.

Allah SWT Maha Pengampun Kepada Hamba-hamba-Nya

Pada zaman Nabiullah Musa As, datanglah kepada Beliau seorang wanita untuk bertobat kepada Allah atas semua kesalahan yang telah dia perbuat selama ini.Wanita tersebut berkata:” Wahai Nabiullah, saya jauh-jauh datang kesini hanya untuk bertaubat kepada Allah, mohonkan Taubatku diterima oleh-Nya”. Nabi Musa AS, berkata:” Gerangan dosa apakah yang telah engkau perbuat, hingga engkau ingin bertaubat kepada Allah SWT?”. Wanita tersebut berkata kembali:” Aku telah berzina dengan seseorang dan telah melahirkan seorang bayi, karena rasa malu dan takut diketahui oleh orang lain, maka aku bunuh bayi terserbut”.

Demi mendengar itu semua, Nabi Musa sangatlah marah, lalu Beliau berkata:” Pergilah engkau, jangan kau bakar aku dengan api neraka yang diakibatkan oleh perbuatanmu itu!!”. Wanita tersebut menangis lalu berkata:” Wahai Nabi Allah, tidakkah aku dapat bertaubat kepada Allah, dan aku berjanji tidak akan mengulangi semuanya itu”. Nabi Musa AS, masih dalam keadaan marah mengusir wanita tersebut sambil berkata:” Dosamu terlalu besar dan tidak bisa dimaafkan”.

Lalu pulanglah wanita tersebut sambil menangis. Tidak lama dari kejadian tersebut, datanglah Malaikat jibril kepada Nabi Musa AS. Jibril berkata:” Wahai Musa, Allah telah menengurmu, mengapa engkau tolak tobatnya wanita tersebut, padahal wanita tersebut telah benar-benar mengakui kesalahan dan menyesal atas semua kesalahannya itu, dia ingin kembali ke jalan yang benar, harusnya Engkau membimbingnya bukannya mengusirnya”.

Demi mendengar itu semua, Nabi Musa berkata:” Dosa wanita tersebut terlalu besar wahai Jibril, dan Aku tidak yakin Allah akan mengampuni dosa tersebut”. Jibril berkata:” Allah maha pengampun lagi maha mendengar taubat dari Hamba-Nya yang benar-benar ingin bertaubat, Bahkan dosa yang lebih besar dari itupun Allah pasti akan mengampuninya”.

Berkata Nabi Musa AS:” Dosa apakah yang lebih besar daripada dosa wanita yang telah berzina dan membunuh anak dari hasil perzinahan tersebut, Ya Jibril???”. Jibril menjawab:” Seseorang yang meninggalkan Sholat dengan sengaja”. Mendengar itu semua Nabi Musa menangis dan dia menyesal atas kekeliruan yang telah Beliau lakukan kepada wanita yang benar-benar ingin bertaubat.   



Link : Disini

Menyambut Bulan Ramadhan

Allah SWT telah mengutamkan sebagian waktu (zaman) diatas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia diatas sebagian lainnya dan sebagaian tempat diatas tempat lainnya.  
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (Q.S Al-Qashash : 68)

Sungguh Allah SWT memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang tak lain merupakan kesempatan bagi kita sebagai hamba Allah SWT untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri selalu kepada-Nya.
Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa, pintu-pintu surga dibuka pada bulan itu, pintu-pintu neraka ditutup, dan para syetan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam lailatul qadr yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang terhalangi untuk mendapatkan kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dihalangi dari keutamaan yang agung”.

Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan besar : kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”.

Ruh Orang Mati Bisa Saling Bertemu

Bahwasanya walaupun jasad sudah hancur lebur dan bersatu dengan tanah akan tetapi ruh dari tubuh tersebut tidak akan pernah rusak atau fana, ia berada pada tempat-tempat yang sudah disediakan sesuai dengan segala amalan yang dikerjakannya pada waktu hidup di dunia. Maksudnya apabila pada waktu di dunia ia berada pada jasad yang senantiasa melakukan amal kebajikan maka ia akan merasakan kebahagiaan serta kenikmatan dari Allah SWT, dan sebaliknya apabila ia pada waktu di dunia ia berada pada jasad yang senantiasa melakukan amal keburukan maka ia akan merasakan pedihnya adzab dari Allah.

Bagi ruh-ruh yang memperoleh kebahagiaan serta kenikmatan dari Allah SWT, mereka bebas untuk mengadakan suatu perjalanan-perjalanan ziarah antara ruh yang satu dengan ruh yang lainnya, maka mereka dapat saling berjumpa dan saling mengunjungi dan saling ingat mengingatkan akan pengalaman masa lalu yang mereka kerjakan pada waktu hidup di dunia, disamping itu ruh-ruh yang telah memperoleh kebahagiaan serta kenikmatan itu dapat melihat keadaan penduduk dunia yang masih hidup.

Sedangkan ruh-ruh yang telah memperoleh siksa dari Allah SWT, senantiasa setiap harinya disibukkan oleh urusan siksaannya, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan-perjalanan ziarah, atau saling berkunjung dengan ruh-ruh yang lain, karena mereka tertahan dan terkurung dalam belenggu siksa dari Allah SWT.

Setiap ruh itu itu akan selalu bersama dengan golongan sejenisnya dalam tingkat amal perbuatannya, sedangkan ruh Nabi Muhammad SAW, senantiasa didampingi oleh Ar-Rafiqul A'la yaitu Dzat Allah Azza wajalla.

Dalam surat An Nisa ayat 69 diterangkan bahwa : Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi oleh Allah SWT. Yaitu para Nabi, Shadiqin dan para Syuhada dan orang-orang yang shalil. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Seorang Ibu Yang Baik, AKan Melahirkan Keturunan Baik

Rasulullah saw bersabda: ”Ada 4 (empat) sebab orang memilih teman hidupnya. (1). karena harta-bendanya. (2). karena keturunannya. (3). karena kecantikannya. (4). Dan yang terakhir karena pentingnya akhlak dan agamanya. Hendaknya engkau selalu mengutamakan akhlak dan agamanya. Kalau tidak tanganmu akan dikotori oleh lumpur” (Bukhari, Muslim, dan Misykaat 267).

Semenjak bumi diciptakan hingga saat ini, tidak ada sarana lain untuk mendapatkan keturunan yang saleh selain seorang ibu yang mulia lagi berbudi luhur, di dalam Islam jika seorang mukmin ingin mempunyai keturunan yang saleh, maka ia hendaknya memilih calon istrinya seorang wanita yang beragama serta berakhlak. Sebab jika salah memilih maka penyesalanlah yang akan diterima seseorang sepanjang usianya.

Demikin pula halnya seorang ibu memberikan pengaruh pada pembawaan akhlak serta perangai anak-anaknya. Setelah anak lahir, peranan seorang ibu amat besar besar. walaupun, seorang ayah mempunyai andil dalam mendidik anak. Akan tetapi, dibanding dengan seorang ibu peran seorang ayah jauh sekali dibandingkan dengan seorang ibu. Selama masih bayi dari ibulah ia menghirup kelezatan air susu ibu. Dirangkulan ibulah ia menikmati ketentraman. Siang malam ia senantiasa berada disamping ibu. Kepada ibulah ia bertutur. Kepada ibu ia merengek-rengek meminta sesuatu. Kepada ibu ia mencari jalan penyelesaian dalam suatu masalah. Dari mulut ibu ia mendengar kata-kata mesra. Sekali-kali ibu memarahinya, tetapi tak urung ia kembali kepada ibu dan bergantung kepadanya. Dan Ia memperhatikan setiap tingkah-laku ibu. Singkat kata, seorang anak merupakan bagian wujud seorang ibu.

Merenungkan Isi Al-Quran

Merenungkan makna Al-Qur'an pada prinsipnya adalah dengan cara mentadabburi dan memikirkannya. Seorang yang bagus bacaannya adalah apabila hatinya telah melunak dengan kalam Rabbnya, konsentrasi dalam mendengarkan dan menghadirkan segenap hati terhadap makna-makna sifat dari Dzat yang berbicara kepadanya, memperhatikan kekuasaan-Nya, meninggalkan ketergantungan terhadap pengetahuan dan akalnya, melepas segala rasa keberdayaan dan kekuatan diri, mengagungkan Dzat yang berfirman kepadanya, merasa hina dengan kemampuan pemahamannya. 

Dengan kondisi yang istiqamah dan hati yang bersih, dengan kekuatan ilmu, kesungguhan pendengaran untuk memahami firman-Nya, seakan-akan menyaksikan jawaban yang Ghaib. Juga dengan doa orang yang merendah diri, merasa banyak kekurangan dan merasa miskin, serta dengan menanti pertolongan dari Dzat yang Maha Menolong dan Maha Tahu, dan dengan memohon pertolongan kepada-Nya agar bacaannya membawa dirinya kepada pemahaman makna. Dia menghadirkan sifat dari Dzat yang berbicara , berupa janji-Nya dengan penuh kerinduan, ancaman-Nya dengan perasaan takut dan peringatan-Nya

Jawaban Jasad Ketika Ruh Akan Dicabut Bagian 1

Ruh adalah merupkan unsur yang tidak dapat terpisahkan dari tubuh, dan apabila ruh itu terpisah dari tubuh maka dapat dikatakan bahwa jiwa itu telah mati. Diceritakan dalam hadits bahwasanya ketika Allah menghendaki mencabut ruh seorang hamba, maka datanglah malaikat maut dari arah mulutnya, seraya berkata, "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini, telah lama lisan ini dipergunakan untuk dzikir kepada Tuhanku". 

 Maka malaikat maut lalu kembali kepada Allah, seraya berkata begini dan begini (menceritakan apa yang telah dialaminya). Maka Allah SWT berfirman, "Cabutlah nyawanya dari arah yang lain". maka malaikat maut datang dari arah tangannya, lalu keluarlah sedekah, seraya berkata, "Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut nyawa, sesungguhnya hamba ini telah menggunakan aku untuk bersedekah banyak dan menggunakan aku untuk mengusap tangannya anak yatim, dan menggunakan aku untuk menulis ilmu pengetahuan, serta memukul lehernya orang kafir (juga menggunakan aku)'. 

Kemudian datanglah malaikat maut dari arah kakinya, maka berkatalah kaki itu, "Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut nyawa dari arahku, maka sesungguhnya hamba ini mempergunakan aku berjalan untuk berjemaah dan beberapa shalat hari raya dan menghadiri majelis ilmu serta majelis ta'lim. Kemudian malaikat maut datang dari arah telinga, maka bekatalah telinga itu, "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini, maka sesungguhnya hamba ini mempergunakan aku untuk mendengarkan Al-Quran dan Adzan serta dzikir". Kemudian datanglah malaikat maut dari arah kedua matanya, maka berkatalah kedua mata itu, "Tidak ada jalan bagimu dari arah kami, sesunguhnya hamba ini mempergunakan kami untuk orang tuanya, serta untuk melihat wajah orang-orang shaleh". 

Kemudian malaikat maut menulis nama Allah diatas telapak tangannya, lalu malaikat memperlihatkan nama Allah itu kepada ruh hamba itu, maka ruh itu mengabulkan pada malaikat, yang akhirnya keluarlah ruh hamba itu berkata nama Allah SWT. Dan akhirnya menjadi hilang rasa sakit seorang hamba ketika ruh keluar, maka bagaimana tidak hilang dari seorang hamba adanya siksa yang sangat pedih, ketika ditulis diatas dadanya nama Allah. 

Bersambung...........
Baca Juga :
Cara Malaikat Maut Mencabut Nyawa
Penyebab Datangnya Siksa Kubur

Cara Malaikat Maut Mencabut Nyawa

Malaikat maut adalah merupakan malaikat yang tugasnya untuk mencabut nyawa setiap mahluk Allah. Di dalam kitab As Suluki dari Mutaqil bin Sulaiman disebutkan bahwa sesungguhnya malikat maut itu mempunyai ranjang yang letaknya dilangit yang ketujuh, ada pula yang mengatakan terletak dilangit yang keempat. Allah SWT menciptakan malaikat maut dari nur, ia mempunyai 70.000 kaki, dan mempunyai 4.000 sayap, yang seluruh tubuhnya dipenuhi dengan beberapa mata dan lisan, tidak satupun mahluk dari anak Adam dan beberapa burung, termasuk setiap yang mempunyai nyawa kecuali baginya terdapat ditubuh malaikat maut. Ia mempunyai wajah, mata, tangan dan telinga yang jumlahnya meurut bilangan seluruh manusia, maka ia mencabut ruh dengan tangan itu, dan ia melihat dengan wajahnya yang bisa tepat pada muka manusia. demikianlah cara ia mencabut nyawa para mahluk dalam setiap tempat. Ketika seseorang itu meninggal dunia, maka hilanglah dari tubuhnya gambaran orang itu. 

Mengenai wajah malaikat maut itu ada yang mengatakan, bahwa malaikat itu mempunyai empat wajah, satu berada di depan, yang kedua berada di atas kepala, yang ketiga berada di depan, yang kedua berada diatas kepala, yang ketiga berada diatas punggungnya dan yang keempat berada di bawah kedua telapak kakinya, ketika ia mencabut ruh para nabi dan para malaikat dari wajah yang berada di atas kepalanya. Ketika ia mencabut nyawanya orang-orang mukmin dari wajah yang berada di depannya, ketika ia mencabut nyawanya orang-orang kafir dari wajahnya yang berada di punggungnya. Ketika ia mencabut nyawanya para jin dari wajah yang berada di atas titian jahanam, dan yang lainnya berada diatas ranjang surga. 

Adapun untuk mengenal akhir beberapa ajal, maka malaikat maut tiba-tiba kejatuhan tulisan mati (catatan nama yang akan dicabut nyawanya) dan catatan sakit bagi seorang hamba, lalu ia berkata, "Ya Tuhanku, kapan aku harus mencabut nyawa hamba itu, dan atas keadaan dan tingkah bagaimana aku mnghilangkan ruhnya?". Maka Allah SWT berfirman, "Hai malaikat maut, ini adalah termasuk ilmu samarku, yang tidak bisa dilihat oleh seorangpun selain Aku, akan tetapi Aku memberitahukan kepadamu tentang kedatangan waktunya, dan Aku akan memberitahukan kepadamu beberapa alamat, yang mana kamu akan melaksanakan perintah atas alamat itu". sesungguhnya malaikat yang diserahi untuk mengurus beberapa jiwa dan ajal perbuatan pada manusia akan datang kepadamu, seraya berkata, "Telah sempurna umur si Fulan". Dan jika orang itu termasuk dalam golongan orang yang bahagia, maka tampak jelas pada namanya yang ditulis dalam bukunya yang ada dihadapan malaikat maut, dengan tulisan dari nur yang putih dan terletak disisi kuru kanan namanya. 

Dalam suatu riwayat dari Ka''ab Al-Akhbar diceritakan sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan pohon dibawah Arsy, dan diatas pohon itu terdapat banyak daun yang jumlahnya menurut bilangan seluruh mahluk. Dan ketika telah sampai ajal seorang hamba, dan umurnya tinggal tersisa 40 hari, maka daun itu jatuh diatas malaikat Izrail As. maka ia jadi mengerti yang demikian itu. Sesungguhnya ia telah diperintahkan untuk mencabut ruh orang yang memiliki atau telah tertulis namanya pada daun itu. Setelah itu para malaikat menamakan orang tersebut mayit di dalam langit, padahal orang tersebut masih hidup dipermukaan bumi selama 40 hari lagi.

Tingkatan Ruh

Dan sebagian lagi ada ruh-ruh itu terbelenggu diatas bumi, yang demikian itu karena ia memang termasuk dalam golongan ruh-ruh yang tingkat rendah, yaitu ruh-ruhnya orang yang senantiasa berbuat kedurhakaan kepada Allah SWT. Sebagian lagi ada ruh-ruh yang menempati tungku-tungku api yang sengaja disediakan untuk para pengumbar hawa nafsu atau para pezina baik laki-laki maupun perempuan. 

Demikianlah keberadaan dan tempat-tempat ruh setelah keluar dari badan, dan keberadaannya itu sampai hari kiamat. Maksudnya keberadaan ruh itu kekal abadi, tidak rusak sekalipun badan-badan yang mereka tempati dulu pada waktu di dunia itu sudah rusak dan hancur lebur. akan tetapi ruh itu masih dapat merasakan nikmat atau kesengsaraan dari azab, meskipun sudah terpisah dengan jasad. 

Memang Allah SWT menciptakan semua yang ada di alam semesta ini sifatnya hanya sementara saja, artinya tidak kekal abadi, yang pada hari kiamat semuanya itu akan hancur dan binasa. Akan tetapi hendaklah ditanamkan rasa keyakinan yaang mendalam bahwa Allah menciptakan ruh itu bersifat kekal abadi, tidak akan rusak atau binasa walaupun datangnya hari kiamat.

Musibah Yang menimpa Pada Mayit

Pada hari mayit terdapat musibah atau adzab pada waktu di dalam kuburnya. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwasanya orang yang terkena musibah (kematian) dengan merobek pakaiannya atau memukul-mukul dada, seakan-akan ia mengambil tombak untuk memerangi Allah SWT. Diceritakan dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda "Barang siapa yang menghitamkan pada pintu atau pakaian ketika terjadi musibah, atau memukuli pada tokonya atau menebangi pohon atau memotong rambut, maka akan dibuatkan untuknya setiap rambut satu rumah dari api neraka. Allah SWT. Tidak akan menerima pentasarufan dan sedekahnya selama hal itu masih tetap hitam diatas pintunya. 

Dan Allah akan menyempitkan kubur si mayit, serta akan menguatkan hisabnya, dan si mayit itu akan dilaknati oleh semua malaikat yang berada dilangit dan di bumi, dan akan ditulis pada diri mayit itu dengan seribu kesalahan, serta mayit itu akan dibangkitkan dari kuburnya dengan keadaan telanjang". 

Barang siapa yang merobek-robek sakunya, tatkala terkenah musibah, maka Allah SWT akan merobek-robek agamanya. Dan kalau orang itu menampari pipi atau mencakari wajahnya, maka Allah SWT mengharamkan kepadanya milhat kepada Dzat-Nya yang mulia. 

Dalam hadist diceritakan ketika anak Adam meninggal berkumpullah jeritan di dalam rumahnya, maka berdirilah malaikat maut pada pintu rumahnya, seraya berkata kepada mereka, "Jeritan apa ini? Demi Allah SWT, aku tidak mengurangi dari salah seorang kamu suatu umur dan tidak mengurangi rezeki, aku juga tidak menganiaya salah seorang kamu, jika jeritanmu itu disebabkan dari aku. Maka aku ini adalah seorang hamba yang diperintah,dan jika adanya jeritan itu disebabkan dari mayit, maka hal itu adalah yang terpaksa. Dan jika adanya jeritan ini disebabkan dari Allah SWT. Maka kamu semua adalah orang yang bodoh dengan Allah, demi Allah sesungguhnya diriku ini akan kembali kepadamu kemudian kembali lagi".

Penyebab Datangnya Siksa Kubur

Siksa kubur adalah diperuntukkan bagi orang-orang yang senantiasa mengabaikan terhadap perintah-perintah Allah SWT, dan menjalankan apa yang menjadi larangan-Nya. Dan apabila ia senantiasa memperbanyak amal kebaikan maka ia akan mendapatkan kebahagiaan di dalam kuburnya. 

Adapun hal yang dapat menyebabkan datangnya siksa kubur pada seseorang terbagi menjadi dua, yaitu secara ringkas dan secara global. Yang dimaksud secara ringkas adalah karena mereka itu memang benar-benar bodoh terhadap Allah (artinya benar-benar tidak mengenal Allah) atau kafir, karena itu ia dengan seluas mungkin, mengabaikan perintah-Nya. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW. Karena mereka suka menyebarkan fitnah, menanmkan sikap permusuhan, adu domba dan mereka tidak mau bersuci sesudah buang air kecil. 

Dan diantaranya lagi hal yang menyebabkan datangnya siksa kubur adalah orang yang suka mengumbar hawa nafsu (perzinahan) baik itu laki-laki maupun perempuan, orang yang bila berjalan suka membusungkan dadanya (sombong), orang yang senantiasa berbuat karena ingin mendapat pujian dari orang lain, orang yang mendatangi dukun, orang yang menjual akhiratnya (agamanya) demi kepentingan keduniaannya, orang suka mencari-cari aib orang lain dan masih banyak lagi hal-hal yang menyebabkan orang menyebabkan tersiksa di dalam kuburnya dan di akhirat kelak.

Ketika Allah Mengambil Kembali Milik-Nya

Ketika suatu ketika kita mendengar atau melihat kejadian-kejadian di sekitar tempat kita tinggal, misalnya orang yang kita sayangi meninggal dunia, yang kaya menjadi miskin kembali. pernyataan seseorang yang sering muncul adalah kenapa Allah membuatnya jadi miskin ataupun kenapa orang yang kita sayangi terlalu cepat dipanggil kembali ke sisi Allah SWT. 

 Jika kita berpikir dari dalam hati yang paling dalam, tentunya Allah melakukan semua itu ada maksudnya dan apakah salah ketika yang punya (Allah) mengambil apa yang menjadi milik-Nya yang selama ini dipinjamkan kepada kita?. 

Maka alangkah baiknya jika menyadari hal tersebut, mengikhlaskannya kembali kepada pemilik-Nya dalam hal Allah SWT. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha yang hasilnya akan kembali kita serahkan kepada Allah SWT. Bila orang yang kita sayangi telah tiada bisa dengan mendoakannya setiap hari agar di alam kuburnya dijauhkan dari siksa kubur hingga hari kiamat, dan jika kita miskin kembali mungkin Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari sebelumnya
 
Support : Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Husni Tamrin Blog...... - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Powered by Blogger